1 hari yang lalu - Terakhir diperbarui - SIK DinkesP2KB (Author)
Sumenep, 30 Mei 2026 / Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu penyakit menular yang memerlukan perhatian serius karena dapat menyerang siapa saja dan berdampak pada kualitas hidup masyarakat. Untuk mempercepat penemuan kasus dan mencegah penularan yang lebih luas, Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Sumenep terus mengoptimalkan berbagai strategi deteksi dini berbasis masyarakat. Salah satunya melalui kegiatan Screening Sistematis Tuberculosis (SSTB) yang dilaksanakan pada 30 Mei 2026 di Balai Desa Bullaan, Kecamatan Batuputih.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya aktif penemuan kasus TBC yang menyasar kelompok masyarakat berisiko tinggi. Pelaksanaannya melibatkan Tim STPI, tenaga kesehatan puskesmas, kader kesehatan, serta Dinkes P2KB Kabupaten Sumenep yang bekerja secara terpadu untuk menjangkau masyarakat secara langsung dan memastikan tidak ada kasus TBC yang luput dari pengawasan.
Sasaran kegiatan meliputi terduga TBC, kontak serumah penderita TBC, kontak erat penderita TBC, serta kelompok masyarakat yang memiliki risiko tinggi seperti penyandang diabetes melitus (DM), HIV, dan kondisi kesehatan lain yang dapat menurunkan daya tahan tubuh. Kelompok-kelompok tersebut menjadi prioritas karena memiliki kemungkinan lebih besar untuk terpapar maupun mengalami perkembangan penyakit apabila tidak dilakukan deteksi sejak dini.
Melalui pendekatan screening sistematis, petugas kesehatan melakukan identifikasi gejala, penelusuran riwayat kontak, serta memberikan edukasi mengenai pencegahan dan pengendalian TBC. Pendekatan jemput bola ini menjadi salah satu strategi yang efektif untuk menemukan kasus lebih cepat, terutama pada masyarakat yang belum atau tidak sempat mengakses layanan kesehatan secara mandiri.
Selain pemeriksaan kesehatan, peserta juga mendapatkan informasi mengenai tanda dan gejala TBC yang perlu diwaspadai, seperti batuk berkepanjangan lebih dari dua minggu, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, demam yang berlangsung lama, keringat malam berlebihan, serta kondisi tubuh yang mudah lelah. Pemahaman ini penting agar masyarakat lebih peka terhadap kondisi kesehatannya dan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gejala yang mengarah pada TBC.
Kegiatan SSTB tidak hanya berfokus pada penemuan kasus, tetapi juga memperkuat edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjalani pengobatan hingga tuntas. Kepatuhan dalam mengonsumsi obat sesuai anjuran tenaga kesehatan merupakan kunci keberhasilan penyembuhan sekaligus langkah penting untuk mencegah terjadinya resistensi obat yang dapat memperberat proses pengobatan.
Peran kader kesehatan dalam kegiatan ini juga sangat strategis. Sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan berbasis masyarakat, kader membantu proses penjaringan sasaran, memberikan edukasi kesehatan, melakukan pendampingan pasien, serta mendukung upaya pemantauan di lingkungan sekitar. Keterlibatan aktif kader menjadi faktor penting dalam meningkatkan keberhasilan program pengendalian TBC di tingkat komunitas.
Pelaksanaan SSTB di Desa Bullaan menunjukkan komitmen kuat Pemerintah Kabupaten Sumenep dalam memperkuat layanan kesehatan promotif dan preventif. Upaya ini sejalan dengan target nasional Eliminasi TBC Tahun 2030 yang menekankan pentingnya penemuan kasus secara aktif, peningkatan cakupan layanan, dan penguatan kolaborasi lintas sektor.
Melalui sinergi antara tenaga kesehatan, kader, pemerintah desa, dan masyarakat, Dinkes P2KB Kabupaten Sumenep berharap semakin banyak kasus TBC yang dapat ditemukan dan ditangani sejak dini. Dengan demikian, rantai penularan dapat diputus, angka kesakitan dapat ditekan, dan masyarakat dapat hidup lebih sehat serta produktif.
Deteksi dini adalah langkah kecil yang membawa dampak besar. Dengan terus memperkuat pelayanan kesehatan hingga ke tingkat desa, Kabupaten Sumenep bergerak bersama menuju masa depan yang lebih sehat dan bebas dari tuberkulosis. (hdx/mnl)