1 hari yang lalu - Terakhir diperbarui - SIK DinkesP2KB (Author)
Sumenep, 30 Mei 2026 / Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Sekolah memiliki peran strategis tidak hanya sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai lingkungan yang mendukung tumbuh kembang dan kesehatan peserta didik. Dalam upaya memperkuat deteksi dini penyakit menular pada anak usia sekolah, Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Sumenep melaksanakan kegiatan Sosialisasi Screening Mandiri TBC dan Kusta bagi SD/MI pada 30 Mei 2026 di SDN Bullaan 1, Desa Bullaan, Kecamatan Batuputih.
Kegiatan ini diikuti oleh kepala sekolah, guru wali kelas, guru penanggung jawab Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), serta para ustadz dan ustadzah yang berperan langsung dalam mendampingi peserta didik di lingkungan sekolah. Sosialisasi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat peran satuan pendidikan dalam mendukung program deteksi dini Tuberkulosis (TBC) dan Kusta pada anak usia sekolah.
Melalui kegiatan ini, para pendidik diberikan pemahaman mengenai pentingnya pelaksanaan screening kesehatan secara mandiri di lingkungan sekolah sebagai langkah awal untuk mengenali gejala dan tanda penyakit sejak dini. Guru dan wali kelas diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam melakukan penjaringan awal terhadap peserta didik yang menunjukkan gejala yang mengarah pada TBC maupun Kusta, sehingga dapat segera ditindaklanjuti melalui pemeriksaan oleh tenaga kesehatan.
Sosialisasi ini juga bertujuan membangun sistem deteksi dini yang berkelanjutan di lingkungan sekolah. Screening mandiri direncanakan menjadi bagian dari proses penerimaan peserta didik baru sebagai langkah identifikasi awal kondisi kesehatan siswa. Selain itu, screening rutin setiap enam bulan bagi siswa yang telah bersekolah diharapkan dapat memperkuat pemantauan kesehatan dan meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit menular yang berpotensi mengganggu proses belajar.
Dalam pelaksanaannya, peserta mendapatkan materi mengenai gejala dan tanda awal TBC pada anak, seperti batuk yang berlangsung lama, penurunan berat badan, demam berulang, serta kondisi tubuh yang tampak lemah. Selain itu, guru juga diberikan pemahaman tentang tanda-tanda awal Kusta yang dapat dikenali melalui perubahan warna kulit, bercak yang mati rasa, maupun gangguan pada saraf tertentu. Pemahaman ini penting agar proses penjaringan dapat dilakukan secara lebih tepat dan efektif.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat sinergi antara sektor kesehatan dan sektor pendidikan dalam menciptakan lingkungan sekolah yang sehat dan aman bagi peserta didik. Dengan keterlibatan aktif guru dan pihak sekolah, proses deteksi dini dapat dilakukan lebih cepat karena pendidik merupakan pihak yang setiap hari berinteraksi langsung dengan siswa dan dapat mengenali perubahan kondisi kesehatan mereka.
Dinas Kesehatan P2KB Kabupaten Sumenep menilai bahwa keberhasilan pengendalian TBC dan Kusta tidak hanya bergantung pada fasilitas pelayanan kesehatan, tetapi juga membutuhkan dukungan dari berbagai elemen masyarakat, termasuk institusi pendidikan. Oleh karena itu, sekolah menjadi mitra strategis dalam membangun sistem kewaspadaan dini terhadap penyakit menular di kalangan anak usia sekolah.
Melalui sosialisasi ini, diharapkan sekolah mampu mengimplementasikan screening mandiri secara berkelanjutan serta meningkatkan kesadaran seluruh warga sekolah tentang pentingnya kesehatan. Langkah sederhana berupa pengamatan dan penjaringan dini dapat menjadi upaya besar dalam mencegah keterlambatan diagnosis dan mempercepat penanganan apabila ditemukan kasus yang memerlukan tindak lanjut.
Dengan kolaborasi yang kuat antara tenaga kesehatan, guru, orang tua, dan masyarakat, Kabupaten Sumenep terus bergerak mewujudkan lingkungan pendidikan yang sehat, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Upaya deteksi dini TBC dan Kusta di sekolah menjadi bagian penting dalam menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan siap menyongsong masa depan. (hdx/mnl)